Studi Tentang Candi Tawang Alun di Sidoarjo

 Artikel

Studi Tentang Candi Tawang Alun di Sidoarjo 




             

                                                                                        Oleh:

Agung Setiawan, S.Pd 

Guru SDN Waru 1


Festival literasi Sidoarjo

NYALANESIA

2022

 






Judul 

Studi Tentang Candi Tawang Alun di Sidoarjo 


Abstrak 






kata kunci: Candi Tawang Alun, Penemuan, Arsitektur, Fungsi, Sidoarjo



Pendahuluan 

          Indonesia adalah negara yang memiliki bermacam-macam suku, ras, agama dan budaya.

Hal tersebut dapat kita ketahui dari faktor sejarah pada masa lampau yaitu kerajaan. 

            Kebudayaan yang masuk ke Indonesia,tidak langsung diterima begitu saja melainkan melalui proses pengolahan penyesuaian sesuai dengan kondisi masyarakat.

dengan kondisi bangsa Indonesia tanpa menghilangkan unsur- unsur asli. Pada waktu itu, Nusantara memiliki kebudayaan yang sudah cukup tinggi. 


Metode 

             Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif yaitu dengan cara pengumpulan data melalui wawancara, media sosial dan buku. 




Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif karena pada tulisan ini, penelitian menceritakan tentang Candi Tawang Alun. 




Hasil Penelitian

A. Sejarah ditemukannya Candi Tawang Alun

Tak banyak orang tahu bahwa Sidoarjo yang dikenal sebagai Kota Udang ini memiliki destinasi wisata bernama Candi Tawangalun.

Candi yang dahulunya dikenal dengan nama Sumur Windu ini terletak di Jalan Candi Tawangalun I, Desa Buncitan, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Candi ini tepat berada di belakang dari kompleks Akademi Perikanan Sidoarjo. Hingga saat ini, Candi Tawangalun dipercaya masih digunakan sebagai tempat penghormatan atau ibadah.

Keberadaannya tidak seperti candi pada umumnya, yang mana terdapat ditengah pemukiman warga sehingga jarang terekspos akan eksistensi dari Tawangalun ini.  Namun, Candi Tawangalun masih ramai dikunjungi oleh warga juga wisatawan dan untuk tiket masuknya pengunjung tidak dipungut biaya sepeserpun alias gratis.

Candi Tawangalun merupakan salah satu peninggalan leluhur yang terbuat dari bahan dasar batu bata. Jika dilihat sekilas, Candi Tawangmalun berbentuk seperti atap rumah. Menurut alkisah, Candi ini didirikan pada tahun 1292 Masehi pada masa kekuasaan Raja Tawangalun. Dari situlah awal mula terbentuknya nama Candi Tawangalun. 

Ahmad Syaiful Munir selaku Juru Kunci mengungkapkan bahwa sampai detik ini ia merawat Candi Tawangmalun seorang diri. Disamping itu, Syaiful juga tergabung ke dalam Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur dan mengatakan bahwa seluruh biaya perawatan berasal dari badan terkait.

Tak jarang wisatawan juga turut peduli yakni dengan berkunjung sekaligus ikut membersihkan kawasan disekitar Candi Tawangalun. “Tadi ada beberapa yang kesini untuk berkunjung, santai-santai dan ada juga yang ikut bersih-bersih,” ungkap Syaiful, Rabu (28/7/2021).

Syaiful mengaku senang jika masih ada yang mempedulikan akan benda peninggalan nenek moyang ini.Setelah sekian lama menjadi juru kunci, rupanya tak banyak yang diinginkan oleh Syaiful. Ia berharap semoga masyarakat Indonesia terutama generasi penerus bangsa dapat lebih mengenali jati diri yang dimiliki terutama kesadarannya terhadap peninggalan bersejarah. “Saya nggak mau banyak berharap karena takut kecewa, jadi saya kembalikan ke kalian semua semoga tidak lupa sama jati diri kita terhadap leluhur,” imbuhnya.

Selain itu, Syaiful juga berharap agar cerita terkait Candi Tawangalun ini dapat didengar dan dilirik oleh dunia demi kelanjutan peradaban. (kik). https://rri.co.id/surabaya/jawa-timur/1130509/candi-tawangalun-peninggalan-sejarah-yang-tersisih-jaman ,  Oleh: Budi SuwarnoEditor: Budi Suwarno ,29 Jul 2021 04:00



Pada masa kerajaan Majapahit, ada seorang penguasa sakti mandraguna di wilayah Tawangalun bernama Resi Tawangalun, ia berasal dari bangsa Raksasa /Jin. Resi Tawangalun mempunyai putri bernama Putri Alun. 


Suatu ketika putri Alun menyukai Raja Brawijaya yaitu Raja Majapahit di masa itu. Demi mewujudkan keinginan putrinya, sang resi merubah wajah Putri Alun terlihat sangat cantik. Dan akhirnya sang rajapun terpikat hati dan mempersunting Putri Alun sebagai istri selirnya. 


Namun ada sifat asli sang putri yg kurang disukai banyak orang, yaitu makan daging mentah, hingga suatu saat sifat aslinya muncul dan diketahui oleh orang istana. Berita santer itu sampailah ke telinga sang raja, hingga murka dan mengusir Putri Alun dari istana dalam keadaan hamil. Putri Alun pun kembali ke ayahnya, dan melahirkan seorang putra diberi nama Arya Damar. 


Waktu berjalan, Arya Damar beranjak dewasa dan putri Alun memberi tahu sang putra bahwa ayahanda nya adalah Raja Brawijaya. Dengan ijin sang Resi dan ibunya, berangkatlah Arya Damar untuk mencari ayahnya. Ketika Arya Damar sampai di Majapahit dan menghadap ke Raja Brawijaya, Arya Damar mengaku bahwa dia adalah anak Raja Brawijaya dari selir Putri Alun. Namun bukannya sambutan yg ia dapatkan, malah ia diusir dari Majapahit, karena kecewa dengan perlakuan ayahanda nya, Arya Damar pun akhirnya kembali ke Tawangalun. Putri Alun, sang Ibunda Arya Damar merasa prihatin dengan nasib putranya, lalu ia mendirikan sebuah candi sebagai wujud rasa kasihnya terhadap Arya Damar. 


Lalu Arya Damar masuk kedalam candi untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta alam semesta. Arya Damar  merenungi tentang makna kehidupan dan bersemadi hingga moksa.


Legenda itulah yg hingga sekarang masih dipercaya oleh warga setempat. Setiap malam kamis dan bulan purnama banyak orang yg datang ditempat ini untuk melakukan meditasi di tempat sakral ini.(*)






Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Legenda Putri Alun, Cikal Bakal Berdirinya Candi Tawangalun", Klik untuk baca:

https://www.kompasiana.com/asyam55782/5e94f71c097f3679070c9b04/legenda-putri-alun-cikal-bakal-berdirinya-candi-tawangalun


Kreator: Asyam Shobir




Kompasiana adalah platform blog, setiap konten menjadi tanggungjawab kreator.


Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com




Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Legenda Putri Alun, Cikal Bakal Berdirinya Candi Tawangalun", Klik untuk baca:

https://www.kompasiana.com/asyam55782/5e94f71c097f3679070c9b04/legenda-putri-alun-cikal-bakal-berdirinya-candi-tawangalun


Kreator: Asyam Shobir




Kompasiana adalah platform blog, setiap konten menjadi tanggungjawab kreator.


Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com




Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Legenda Putri Alun, Cikal Bakal Berdirinya Candi Tawangalun", Klik untuk baca:

https://www.kompasiana.com/asyam55782/5e94f71c097f3679070c9b04/legenda-putri-alun-cikal-bakal-berdirinya-candi-tawangalun


Kreator: Asyam Shobir




Dibalik kemajuan dan modernitas, ternyata Kabupaten Sidoarjo menyimpan beragam peninggalan-peninggalan kerajaan kuno yang pernah berkuasa di Pulau Jawa. Beragam peninggalan zaman kerajaan yang tersebar di sejumlah tempat di Sidoarjo umumnya berupa reruntuhan bangunan candi.

Kali ini Teman Brisik akan diajak untuk mengenal salah satu situs candi purbakala di Kabupaten Sidoarjo. Bangunan candi tersebut dikenal dengan nama Candi Tawangalun. Lokasinya berada di wilayah perbukitan, berbeda dengan kebanyakan candi lain yang ditemukan di Kabupaten Sidoarjo yang umumnya terkubur di dekat atau di dalam area pemukiman warga.

Sejarah Candi

Candi Tawangalun diyakini merupakan salah satu dari peninggalan Majapahit yang kemungkinan dibangun sekitar abad ke-13. Kala itu Majapahit dipimpin oleh Raja Brawijaya II.

Menurut sebagian cerita, awal kisah pembangunan candi adalah sebuah bukti cinta seorang putri penguasa daerah Tawangalun yang diyakini merupakan keturunan lelembut atau sebangsa jin dikarenakan memiliki kesaktian mandraguna. Karena cintanya kepada Raja Brawijaya, maka ayah dari putri tersebut yang bernama Resi Tawangalun mengubah bentuk putrinya agar cantik rupawan. Tujuannya agar sang raja terpikat. Pada akhirnya, sang raja jatuh hati dan menjadikan putrinya sebagai selir.

Foto: Instagram/@mawardioleg157

Akan tetapi, perjalanan cintanya tidak berjalan mulus. Pasalnya sang selir memiliki kebiasaan aneh yakni kerap memakan daging mentah. Hal ini diketahui raja dan kemudian mengusirnya dalam keadaan hamil.

Beberapa waktu kemudian sang selir melahirkan anak yang diberi nama Arya Damar. Saat Arya Damar beranjak dewasa dan ingin menemui ayahnya yang merupakan penguasa Majapahit, ia justru mendapat penolakan. Arya Damar akhirnya kembali ke daerah Tawangalun dan di sana mendirikan banguna candi sebagai bentuk rasa kecewa. Ia pun menghabiskan sisa hidupnya dengan bertapa di dalam candi hingga akhirnya mengalami moksha ke khayangan.

Lokasi Candi

Candi Tawangalun berada di daerah Buncitan, tepatnya di Jalan Tawang Alun, Desa Sedati, Dusun Kampung Baru, Kelurahan Buncitan, Kec. Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo. Untuk mencapainya cukup mudah. Dari Jalan Raya Buncitan lurus saja hingga menemui perempatan jalan, lalu belok ke kanan menuju Jalan Candi Tawangalun. Lurus terus hingga menjumpai papan penanda lokas candi. Lokasi candi berada di dekat tanah lapang yang berada di belakang kompleks Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo.

Candi Tawangalun umunya tidak terlalu berbeda dengan candi-candi khas peninggalan Majapahit, yakni sama-sama berbahan dasar bata kuno berwarna merah. Yang membedakan adalah sisa bangunan yang hanya tinggal setengahnya. Hingga kini pihak terkait belum melakukan proses restorasi agar candi menjadi utuh kembali.

Di sekitar area candi juga ditemukan beberapa batu yang sengaja dipahat sedikit menyerupai wajah manusia. Selain itu ditemukan pula batu berbentuk seperti cawan air.

Foto: instagram/@mawardioleg157

Mitos Candi Tawangalun

Candi Tawangalun selain penuh nilai sejarah juga masih menyimpan beragam mitos yang menyelimutinya. Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, Resi Tawangalun yang sejatinya merupakan bangsa jin masih sering terlihat melakukan semedi di reruntuhan candi ini. Kehadirannya dirasakan terutama saat malam bulan purnama.

Selain itu, ada juga kebiasaan ibu-ibu di sekitar area candi yang gemar memakan daging setengah matang di saat-saat tertentu. Hal ini dipercaya merupakan bentuk penghormatan kepada putri Resi Tawangalun yang gemar memakan daging mentah.

Masyarakat  juga sering melakukan acara slametan atau upacara tumpengan setiap malam Kamis atau pada saat bulan purnama sebagai bentuk ritual tolak balak.


B. Fungsi Candi Tawang Alun pada masa sekarang










IV. Kesimpulan dan saran 

     A. Simpulan 

Candi Tawang Alun terletak di...




Fungsi Candi Tawang Alun saat ini merupakan...




      B. Implikasi 

          Penelitian ini dimaksudkan sebagai tambahan referensi Candi Tawang Alun dan secara teoritis untuk melengkapi data-data mengenai candi tersebut. Serta bagi peneliti sendiri dapat menambah wawasan tentang salah satu kearifan lokal Sidoarjo yaitu Candi Tawang Alun.






Daftar Pustaka

https://rri.co.id/surabaya/jawa-timur/1130509/candi-tawangalun-peninggalan-sejarah-yang-tersisih-jaman ,  Oleh: Budi SuwarnoEditor: Budi Suwarno ,29 Jul 2021 04:00


https://www.kompasiana.com/asyam55782/5e94f71c097f3679070c9b04/legenda-putri-alun-cikal-bakal-berdirinya-candi-tawangalun   14 April 2020   06:36 Diperbarui: 14 April 2020   06:44

Kreator: Asyam Shobir


https://brisik.id/read/56799/candi-tawangalun-tempat-semedi-bangsa-jin-di-bulan-purnama 07 November 2020












Daftar Pustaka








Metode 







Komentar